# Buat logo kelas dunia dengan teknik interlocking monogram di Canva. Pelajari metode splicing, masking, dan pemilihan font mewah ala brand fashion.

Anima Trenz – Dalam dunia desain identitas visual yang terus bergerak cepat, kita sering kali melihat siklus tren yang berulang, namun ada satu elemen yang tetap berdiri kokoh sebagai simbol kemewahan dan otoritas abadi: monogram. Jauh sebelum era digital mendominasi, monogram telah menjadi penanda identitas yang kuat, mulai dari koin kota-kota Yunani kuno sekitar 350 SM hingga menjadi stempel pengrajin dan bangsawan Eropa abad pertengahan. Hari ini, ketika kita melihat logo “C” ganda yang saling bertaut dari Chanel atau inisial “LV” yang menjalin rumit dari Louis Vuitton, kita tidak sekadar melihat huruf, melainkan sebuah warisan visual yang menyiratkan eksklusivitas, sejarah, dan kualitas tanpa kompromi.
Fenomena ini dikenal sebagai interlocking monogram, sebuah gaya desain di mana dua atau lebih huruf inisial disusun sedemikian rupa sehingga terlihat saling mengunci, memeluk, atau menembus satu sama lain. Desain ini menciptakan ilusi kedalaman tiga dimensi pada bidang dua dimensi yang datar, memberikan kesan bahwa huruf-huruf tersebut adalah objek fisik yang nyata. Menariknya, banyak dari logo ikonik ini lahir dari cerita personal yang mendalam.
Logo Chanel, misalnya, dirancang oleh Coco Chanel sendiri pada tahun 1925, yang menurut legenda terinspirasi oleh pola kaca patri di kapel panti asuhan tempat ia menghabiskan masa kecilnya, atau mungkin merupakan penyatuan inisial namanya dengan kekasihnya, Arthur “Boy” Capel. Sementara itu, logo Gucci dengan “G” ganda yang ikonik baru muncul di tahun 1960-an sebagai penghormatan putra Guccio Gucci kepada ayahnya, menegaskan bahwa monogram sering kali merupakan jembatan antara masa lalu dan masa depan sebuah merek.
Kabar baik bagi para kreator, pemilik UMKM, dan pegiat konten di Indonesia adalah bahwa estetika tingkat tinggi ini tidak lagi menjadi monopoli rumah mode Eropa dengan anggaran desain jutaan dolar. Platform desain seperti Canva telah mendemokratisasi akses terhadap alat-alat visual canggih. Meskipun Canva tidak memiliki fitur pathfinder atau vector manipulation sekompleks Adobe Illustrator, dengan pemahaman yang tepat tentang manipulasi layer dan ilusi optik, kita dapat menciptakan logo monogram interlocking yang sama meyakinkannya. Artikel ini akan membedah secara mendalam teknik “Splicing” (penyambungan) dan “Masking” (penopengan) di Canva, mengubah teks sederhana menjadi aset merek yang bernilai tinggi.
Baca Juga : Membangun Identity Brand dengan Canva Free Di Tahun 2026, Mulai Dari Tren Warna, Hingga Font Pairing..
Anatomi Tipografi dalam Monogram
Sebelum kita menyentuh kanvas digital, langkah pertama yang paling krusial adalah pemilihan jenis huruf atau font. Tidak semua huruf diciptakan setara untuk tujuan interlocking. Keberhasilan teknik ini bergantung sepenuhnya pada anatomi huruf—ketebalan garis (stroke width), keberadaan kaki (serif), dan ruang negatif (negative space). Memilih font yang salah akan membuat teknik splicing terlihat berantakan atau bahkan tidak terbaca sama sekali.
Jika tujuan Anda adalah membangun citra merek yang klasik, elegan, dan timeless—sering disebut sebagai estetika “Old Money”—maka font jenis Serif adalah pilihan mutlak. Dalam perpustakaan Canva, font seperti Prata, Cinzel, atau Bodoni FLF menawarkan kontras yang dramatis antara garis tebal dan tipis. Bagian tebal dari huruf-huruf ini memberikan “wilayah kerja” yang cukup luas untuk melakukan pemotongan dan penyambungan yang bersih, sementara bagian tipisnya menambah nuansa elegan. Font Tan Aegean atau Tan Pearl (tersedia di Canva Pro) juga menjadi favorit para desainer saat ini karena memiliki lengkungan dekoratif yang unik, memberikan karakter yang kuat bahkan sebelum dimodifikasi.
Sebaliknya, jika merek Anda ingin mengkomunikasikan modernitas, teknologi, atau minimalisme arsitektural, font Sans Serif adalah kandidat terbaik. Font seperti League Spartan, Montserrat, atau Tenor Sans memiliki geometri yang kokoh dan ketebalan garis yang konsisten. Konsistensi ini sangat memudahkan proses manipulasi karena Anda tidak perlu khawatir kehilangan detail garis rambut yang halus saat melakukan masking. Ingatlah prinsip Gestalt dalam desain: mata manusia cenderung melengkapi bentuk yang tidak lengkap. Dengan menggunakan font yang memiliki struktur kuat, kita dapat memotong sebagian bagian huruf tanpa menghilangkan keterbacaan, karena otak audiens akan otomatis “mengisi” bagian yang hilang tersebut.
Baca Juga : 7 Kombinasi Font Canva (Pairing) Paling Elegan untuk Brand Mewah Tahun 2026
Metode Splicing Manual (The Crop Technique)

Mari kita masuk ke dalam eksekusi teknis. Metode pertama dan yang paling sering digunakan karena fleksibilitasnya adalah teknik “Splicing” atau pemotongan manual menggunakan fitur Crop. Logika dasar di balik teknik ini adalah manipulasi persepsi visual dengan menyembunyikan dan menampilkan bagian tertentu dari huruf yang bertumpuk. Bayangkan Anda sedang menganyam dua lembar pita; di satu titik pita A berada di atas pita B, dan di titik lain pita A berada di bawah pita B. Kita akan mereplikasi efek anyaman ini secara digital.
Proses dimulai dengan menyiapkan kanvas kosong di Canva. Sangat disarankan untuk bekerja pada resolusi tinggi, minimal 1080×1080 piksel atau lebih besar, untuk memastikan ketajaman tepi huruf. Ketik dua inisial yang ingin Anda gabungkan, misalnya “A” dan “B”. Poin kuncinya adalah membuat setiap huruf dalam elemen teks yang terpisah. Jangan mengetik “AB” dalam satu kotak teks, karena ini akan membatasi kemampuan Anda untuk memindahkan dan memanipulasi setiap huruf secara independen. Berikan warna yang berbeda pada kedua huruf tersebut untuk sementara waktu, misalnya Hitam untuk “A” dan Emas untuk “B”. Kontras warna ini berfungsi sebagai panduan visual agar mata Anda dapat membedakan lapisan (layer) dengan mudah selama proses penyuntingan.
Setelah posisi kedua huruf diatur hingga saling bertumpuk dengan estetis—mencari titik di mana garis vertikal atau lengkungan mereka saling memotong—langkah splicing dimulai. Tentukan huruf mana yang akan menjadi “anyaman” aktif. Katakanlah kita ingin huruf “B” (Emas) terlihat melilit huruf “A” (Hitam). Duplikat huruf “B” tersebut sehingga Anda memiliki dua salinan huruf “B” yang identik pada posisi yang sama persis. Pastikan posisi duplikat ini menumpuk sempurna di atas aslinya; pergeseran satu piksel saja akan merusak ilusi magis yang ingin kita ciptakan.
Selanjutnya, fokuslah pada salinan huruf “B” yang berada di lapisan paling atas. Gunakan alat potong (Crop tool) dengan menarik tuas pemotong dari bawah ke atas atau sebaliknya. Tujuannya adalah memangkas sebagian tubuh huruf “B” duplikat tersebut sehingga hanya menyisakan segmen kecil yang ingin Anda tampilkan “di atas” huruf “A”.
Secara visual, Anda akan melihat sebagian huruf “B” tetap berada di belakang “A” (ini adalah huruf “B” asli di lapisan bawah), sementara potongan kecil huruf “B” duplikat yang tersisa kini berada di atas “A”. Hasil akhirnya adalah ilusi optik sempurna di mana huruf tersebut tampak masuk dan keluar, saling mengunci satu sama lain. Kehalusan hasil akhir sangat bergantung pada ketelitian Anda dalam mengatur batas crop agar tepat jatuh di garis tepi huruf pasangannya.
Metode Masking dengan Ruang Negatif (The Shape Method)
Metode kedua menawarkan pendekatan yang berbeda, yang lebih fokus pada penciptaan ruang negatif (negative space) untuk memisahkan elemen. Teknik ini sangat efektif jika Anda menginginkan logo yang terlihat bersih dengan celah putih (gap) yang tegas di antara pertemuan huruf, memberikan kesan dimensi yang modern dan breathable. Teknik ini sering disebut sebagai Masking menggunakan elemen bentuk (shapes).
Mulailah dengan susunan huruf yang sama seperti metode pertama. Namun, alih-alih memotong huruf, kita akan menambahkan elemen baru untuk “menghapus” bagian tertentu. Buka menu ‘Elements’ di Canva dan pilih bentuk dasar seperti kotak, lingkaran, atau bentuk abstrak yang sesuai dengan kurva font Anda. Ubah warna bentuk ini menjadi sama persis dengan warna latar belakang kanvas (biasanya putih). Posisikan bentuk kecil berwarna putih ini di atas titik persimpangan di mana Anda ingin memutus garis huruf.
Dengan menempatkan “tambalan” warna putih ini di atas bagian tertentu dari huruf, Anda secara efektif memblokir pandangan mata terhadap bagian tersebut, menciptakan ilusi bahwa garis huruf terputus. Anda bisa menggunakan beberapa bentuk kecil sekaligus untuk memahat celah-celah halus di berbagai titik pertemuan huruf, menciptakan efek stensil yang sangat rapi dan presisi. Kelemahan metode ini adalah ia hanya bekerja sempurna pada latar belakang solid. Jika Anda mengubah warna latar belakang kanvas, Anda harus mengubah warna semua bentuk penutup tersebut secara manual. Namun, untuk kebutuhan presentasi cepat atau media sosial dengan latar belakang statis, cara ini sangat efisien dan mudah dikontrol.
Deconstructive SVG untuk Transparansi Penuh
Bagi pengguna tingkat lanjut yang membutuhkan aset logo profesional dengan latar belakang transparan (file PNG tanpa background) untuk keperluan cetak kaos, watermark, atau merchandise, metode “tambalan putih” sebelumnya tidak akan berhasil. Anda memerlukan teknik yang lebih destruktif namun fleksibel, yang melibatkan ekspor dan impor kembali aset desain.
Langkah ini dimulai dengan menyusun huruf-huruf Anda seperti biasa. Setelah komposisi dirasa pas, unduh desain tersebut sebagai file gambar berkualitas tinggi (PNG atau PDF Print), lalu unggah kembali ke Canva. Saat diunggah kembali, desain tersebut bukan lagi teks yang bisa diedit (editable text), melainkan gambar raster atau flat image. Masukkan gambar tersebut ke kanvas baru.
Di sinilah fitur Canva Pro seperti ‘Background Remover’ atau ‘Magic Eraser’ berperan vital. Dengan menggunakan kuas penghapus di dalam fitur ‘Edit Photo’, Anda dapat menghapus bagian spesifik dari huruf yang saling bertumpuk secara manual. Anda benar-benar menghapus piksel gambar, bukan sekadar menutupinya. Ini memungkinkan Anda menciptakan celah transparansi yang nyata di antara anyaman huruf. Hasil akhirnya adalah logo interlocking yang benar-benar bolong di bagian celahnya, sehingga bisa ditempatkan di atas latar belakang foto atau warna apa pun tanpa ada kotak putih yang mengganggu. Teknik ini membutuhkan tangan yang stabil saat menggunakan kuas penghapus, tetapi memberikan hasil yang paling fleksibel untuk penggunaan komersial jangka panjang.
Baca Juga : 5 Elemen Brand Kit Canva Wajib Punya Agar Bisnis Terlihat Pro
Kerning, Tekstur, dan Nuansa Warna

Setelah struktur teknis logo terbentuk, pekerjaan seorang desainer belum selesai. Tahap penyempurnaan atau polishing adalah apa yang membedakan desain amatir dengan profesional. Aspek pertama yang sering dilupakan adalah kerning atau jarak antar karakter. Dalam desain monogram, Anda memiliki kebebasan mutlak untuk melanggar aturan spasi standar. Geser huruf-huruf tersebut secara mikro menggunakan tombol panah di keyboard Anda untuk presisi tingkat piksel. Perhatikan keseimbangan visual (visual weight); apakah logo terasa berat sebelah? Apakah ruang kosong di antara huruf terasa harmonis?
Eksplorasi warna juga memegang peranan kunci. Mengacu pada tren desain 2024 dan 2025, palet warna yang sedang naik daun adalah warna-warna “bumi” yang mewah namun tenang. Kombinasi seperti Sage Green dengan Cream, Charcoal dengan Terracotta, atau Navy Blue dengan Gold Foil memberikan nuansa “Quiet Luxury”. Untuk memberikan efek emas atau tekstur metalik pada huruf di Canva, Anda dapat menggunakan fitur ‘Frames’. Cari ‘Letter Frames’ di elemen, masukkan inisial Anda, lalu seret foto tekstur emas atau perak ke dalam bingkai huruf tersebut. Setelah huruf Anda bertekstur emas, lakukan teknik splicing seperti biasa. Hasilnya adalah monogram metalik yang terlihat sangat realistis dan mahal.
Selain itu, jangan ragu untuk menambahkan efek bayangan (Drop Shadow) yang sangat tipis dan lembut pada salah satu huruf untuk memperkuat ilusi kedalaman. Pastikan parameter blur tinggi dan transparency rendah agar bayangan tidak terlihat kasar. Sentuhan kecil ini secara drastis meningkatkan persepsi tiga dimensi dari logo Anda.
Memahami Hak Kekayaan Intelektual di Canva
Bagian ini sangat krusial namun sering diabaikan. Ketika Anda mendesain logo untuk bisnis, pertanyaan tentang hak cipta dan merek dagang (trademark) pasti muncul. Berdasarkan kebijakan lisensi Canva, pengguna tidak diperbolehkan mendaftarkan merek dagang untuk logo yang mengandung elemen stok (foto, grafis vektor, ilustrasi) dari perpustakaan Canva, baik yang Gratis maupun Pro. Hal ini karena elemen-elemen tersebut bersifat non-eksklusif; artinya, ribuan pengguna lain memiliki hak yang sama untuk menggunakan elemen tersebut.
Namun, situasi menjadi lebih nuansa ketika kita berbicara tentang monogram yang dibuat murni dari teks dan bentuk dasar. Font yang disediakan di Canva umumnya memiliki lisensi yang mengizinkan penggunaan komersial, seperti pada logo, kemasan produk, atau situs web. Selama desain monogram Anda merupakan hasil manipulasi kreatif yang unik dari bentuk huruf (seperti teknik splicing dan interlocking yang kita bahas), dan tidak sekadar menempelkan ikon stok bunga atau hewan dari library Canva, posisi Anda untuk mengklaim orisinalitas desain tersebut jauh lebih kuat. Komposisi unik dari huruf-huruf tersebut adalah karya intelektual Anda.
Meski demikian, untuk keamanan hukum yang maksimal, terutama jika Anda berencana mendaftarkan logo tersebut sebagai Merek Dagang resmi di Dirjen HKI, sangat disarankan untuk menggunakan font yang Anda beli lisensinya secara terpisah dari pihak ketiga, atau bahkan huruf yang Anda gambar sendiri secara manual lalu didigitalkan dan diunggah ke Canva. Dengan cara ini, “bahan baku” utama logo Anda adalah 100% milik Anda, dan Canva hanya berfungsi sebagai alat komposisi, bukan penyedia aset, sehingga menghilangkan risiko sengketa lisensi di kemudian hari.
Mengubah Keterbatasan Menjadi Kreativitas
Perjalanan menciptakan logo monogram dengan efek interlocking di Canva mengajarkan kita satu prinsip desain yang penting: keterbatasan alat sering kali memicu kreativitas terbesar. Kita tidak memerlukan perangkat lunak vektor berbayar mahal untuk memanipulasi persepsi visual audiens. Dengan pemahaman mendalam tentang cara kerja layer, ruang negatif, dan prinsip Gestalt, kita bisa mengubah dua huruf inisial sederhana menjadi sebuah lambang yang memiliki narasi visual—simbol konektivitas, kompleksitas, dan keanggunan.
Monogram bukan sekadar tren sesaat; ia adalah jembatan antara tradisi dan modernitas. Dengan menguasai teknik ini, Anda tidak hanya mendesain sebuah logo, tetapi Anda sedang membangun aset visual yang akan menjadi wajah terdepan dari cerita merek Anda. Mulailah bereksperimen, langgar aturan baku tipografi, dan jalinlah huruf-huruf tersebut menjadi karya seni yang bangga Anda tampilkan kepada dunia.
Ringkasan Teknik Interlocking Monogram di Canva
- Pilih Font dengan Bijak: Utamakan font Serif (Prata, Cinzel) untuk kesan mewah atau Sans Serif tebal (League Spartan) untuk modernitas agar teknik splicing terlihat jelas.
- Isolasi Huruf: Selalu gunakan kotak teks (text box) terpisah untuk setiap huruf agar Anda memiliki kendali penuh atas posisi dan layering.
- Kuasai Teknik Crop: Duplikat huruf lapisan atas, tumpuk dengan presisi piksel, lalu potong sebagian untuk menciptakan ilusi anyaman.
- Manfaatkan Ruang Negatif: Gunakan bentuk (shapes) berwarna latar belakang untuk metode masking yang cepat dan bersih.
- Perhatikan Detail Mikro: Gunakan tombol panah keyboard untuk nudging (geseran halus) dan pastikan kerning atau jarak antar huruf seimbang.
- Waspada Hukum: Hindari elemen stok grafis Canva jika ingin mendaftarkan merek dagang; fokuslah pada manipulasi teks dan bentuk geometris dasar.
Ingin memperdalam skill desain digital Anda atau membutuhkan konsultasi branding yang lebih personal dan mendalam? Jangan ragu untuk bergabung dengan komunitas kreatif kami atau cek portofolio dan sumber daya terbaru di Mahesa/Anima Trenz. Mari kita ubah visi kreatif Anda menjadi aset visual yang ikonik, berkelas, dan bernilai tinggi. Mulai transformasi brand Anda sekarang juga!
