# Bingung pilih HP di tahun 2026? Simak analisis chipset Snapdragon 685 vs Helio G99. Kami bedah performa gaming, suhu, dan efisiensi baterai secara mendalam di sini.

Anima Trenz – Saya sering kali merasakan kebingungan yang sama saat berdiri mematung di depan etalase toko elektronik atau ketika jempol saya sibuk scroll layar ponsel menelusuri toko online di tahun 2026 ini. Pasar smartphone kelas menengah ke bawah, khususnya di rentang harga dua hingga tiga jutaan rupiah, memang masih menjadi medan pertempuran yang sangat brutal.
Di satu sisi, saya melihat deretan ponsel yang memamerkan nama besar Qualcomm dengan prosesor Snapdragon 685 yang diklaim punya kecepatan hingga 2.8GHz. Di sudut lain, ponsel dengan chipset MediaTek Helio G99 terus membanjiri pasar dengan janji performa gaming superior meski angka kecepatan jamnya terlihat lebih rendah.
Situasi ini jelas menciptakan dilema besar bagi Anda yang ingin memastikan setiap rupiah yang keluar memberikan performa terbaik. Artikel ini saya tulis sebagai panduan teknis untuk membedah realitas di balik angka-angka pemasaran tersebut.
Saya tidak akan hanya bicara soal spesifikasi di atas kertas yang sering kali menipu, tapi saya akan mengajak Anda menyelami arsitektur inti, efisiensi daya, manajemen suhu, hingga kemampuan multimedia yang sering luput. Pemahaman mendalam mengenai kedua chipset ini sangat krusial karena di tahun 2026 tuntutan aplikasi dan game semakin berat, sementara dompet kita menuntut perangkat yang awet. Mari kita bedah mitos dan fakta dari persaingan dua legendaris ini agar Anda tidak salah beli.
Mengupas Arsitektur CPU dan Jebakan Angka GHz

Salah satu strategi pemasaran paling klasik yang sering saya temui adalah menonjolkan angka clock speed yang besar. Snapdragon 685 sering kali dipasarkan dengan label mentereng “Up to 2.8GHz”. Angka ini secara psikologis memang terlihat jauh lebih “ngebut” dibandingkan Helio G99 yang “hanya” berjalan di angka 2.2GHz.
Namun, sebagai orang yang hobi mengutak-atik jeroan komputer, saya paham betul bahwa dalam dunia semikonduktor, frekuensi hanyalah satu variabel kecil. Mengandalkan angka GHz semata ibarat menilai kecepatan mobil balap hanya dari seberapa berisik suara knalpotnya, tanpa melihat mesin apa yang ada di balik kapnya.
Realitas teknis yang harus kita pahami adalah perbedaan generasi arsitektur inti prosesor atau CPU yang digunakan. Snapdragon 685, meskipun dirilis belakangan sebagai penyegaran, sejatinya masih menggunakan basis inti performa Kryo 265 Gold. Inti ini dibangun berdasarkan arsitektur ARM Cortex-A73, sebuah desain yang sudah cukup berumur dan bisa dikatakan teknologi lama yang diperah kembali.
Di sisi lain, MediaTek Helio G99 sudah melangkah lebih maju dengan menggunakan dua inti performa berbasis ARM Cortex-A76. Perbedaan antara A73 dan A76 bukanlah sekadar urutan angka, melainkan lompatan generasi yang signifikan dalam hal efisiensi instruksi. Kita perlu mengenal istilah teknis bernama IPC atau Instructions Per Cycle.
IPC mengukur seberapa banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan oleh prosesor dalam satu detak jam. Cortex-A76 pada Helio G99 memiliki IPC yang jauh lebih tinggi dibandingkan Cortex-A73 pada Snapdragon 685. Artinya, meskipun Helio G99 berjalan “santai” di 2.2GHz, ia mampu memproses data lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan Snapdragon 685 yang harus “ngoyo” atau bekerja keras di 2.8GHz.
Inilah mengapa dalam penggunaan nyata saat saya membuka aplikasi berat atau melakukan multitasking, Helio G99 sering terasa lebih responsif di tangan. Snapdragon 685 pada dasarnya adalah chipset lama yang di-overclock atau dipaksa berjalan lebih kencang dari desain aslinya, yang tentu saja membawa konsekuensi pada efisiensi yang akan saya bahas nanti.
Baca Juga : Cara Mengoptimalkan Baterai Tablet Android di Era 2026: Strategi Hardware dan Software Terbaru
Pertarungan Unit Pemrosesan Grafis Adreno Melawan Mali
Beralih ke sektor visual, perbedaan kekuatan antara kedua chipset ini semakin terlihat nyata bagaikan bumi dan langit. Bagi saya yang menjadikan smartphone sebagai perangkat hiburan utama untuk menamatkan game, komponen GPU atau Graphics Processing Unit memegang peranan vital.
Snapdragon 685 dibekali dengan GPU Adreno 610. Bagi Anda yang mengikuti sejarah perkembangan chipset, nama Adreno 610 mungkin membangkitkan memori lama karena GPU ini adalah unit yang sama persis dengan yang digunakan pada Snapdragon 665 bertahun-tahun yang lalu. Menggunakan teknologi grafis lawas di tahun 2026 untuk me-render game modern tentu membawa banyak keterbatasan.
Sementara itu, MediaTek Helio G99 datang dengan persenjataan yang jauh lebih modern yaitu Mali-G57 MC2. GPU ini dibangun di atas arsitektur Valhall yang dikembangkan oleh ARM, yang menawarkan efisiensi dan kepadatan performa jauh lebih baik.
Dalam berbagai pengujian komputasi grafis yang saya lakukan, Mali-G57 MC2 secara konsisten menunjukkan kemampuan throughput data yang lebih tinggi. Ini berarti ia mampu menggambar poligon, tekstur, dan efek pencahayaan dalam game dengan lebih cepat dan efisien dibandingkan Adreno 610 yang sudah mulai kepayahan menangani beban grafis masa kini.
Implikasi dari perbedaan arsitektur GPU ini sangat terasa saat saya menjalankan aplikasi 3D atau game. Adreno 610 pada Snapdragon 685 sering kali harus bekerja pada kapasitas maksimumnya hanya untuk mencapai frame rate standar. Hal ini menyisakan sedikit ruang untuk stabilitas saat adegan permainan menjadi ramai.
Sebaliknya, Mali-G57 MC2 pada Helio G99 masih memiliki headroom atau ruang napas yang cukup, sehingga mampu menjaga kestabilan visual dengan lebih baik. Jika Anda sedang mencari rekomendasi HP gaming murah dengan performa grafis yang bisa diandalkan, superioritas arsitektur GPU pada Helio G99 adalah faktor yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Realita Performa Gaming dan Stabilitas Frame Rate

Teori mengenai arsitektur di atas kertas memang penting, namun pengalaman nyata di lapangan adalah hakim yang paling adil. Mari kita bedah performa kedua chipset ini dalam skenario gaming yang sesungguhnya. Untuk judul e-sport populer yang relatif ringan seperti Mobile Legends: Bang Bang atau Free Fire, kedua chipset ini sebenarnya masih mampu memberikan pengalaman bermain yang cukup baik.
Snapdragon 685 masih bisa menjalankan game-game ini dengan pengaturan grafis menengah hingga tinggi dengan frame rate yang bisa diterima pemain kasual. Namun, perbedaan mulai terasa pada konsistensi. Saat saya menaikkan level tantangan ke game yang lebih berat seperti PUBG Mobile atau Call of Duty Mobile, Helio G99 mulai menunjukkan taringnya.
Berdasarkan pengujian lapangan, Helio G99 mampu mempertahankan pengaturan grafis yang lebih tinggi dengan frame rate yang lebih stabil. Saya jarang menemui gejala stuttering atau patah-patah mikro yang sering terjadi pada Snapdragon 685 ketika memuat tekstur peta baru atau saat terjadi pertempuran intens dengan banyak efek ledakan. Ini adalah perbedaan antara pengalaman bermain yang “bisa jalan” dengan pengalaman bermain yang “kompetitif”.
Ujian sesungguhnya terjadi pada game open-world super berat seperti Genshin Impact. Di sini, saya merasakan Snapdragon 685 benar-benar kewalahan. Meski dipaksa berjalan pada pengaturan grafis terendah (Lowest), chipset ini kesulitan untuk menjaga frame rate stabil di angka 30 FPS. Sering kali terjadi penurunan drastis hingga belasan FPS yang membuat game terasa tidak responsif.
Di sisi lain, Helio G99, meskipun bukan chipset kelas atas, masih mampu menjalankan game ini dengan frame rate rata-rata di kisaran 40-50 FPS pada pengaturan rendah. Ini memberikan pengalaman yang jauh lebih playable. Data pengujian saya menunjukkan bahwa dalam sesi bermain 30 menit, Helio G99 jauh lebih konsisten dalam menjaga performa dibandingkan pesaingnya.
Analisis Manajemen Panas dan Konsumsi Daya Baterai
Performa tinggi tidak akan berarti banyak jika perangkat menjadi terlalu panas untuk dipegang atau baterai terkuras habis dalam sekejap. Di sinilah keputusan Qualcomm untuk melakukan overclocking pada inti Cortex-A73 di Snapdragon 685 menjadi pedang bermata dua.
Meskipun kedua chipset ini diproduksi menggunakan teknologi fabrikasi 6nm dari TSMC yang terkenal efisien, karakteristik termal keduanya sangat berbeda. Snapdragon 685 yang dipaksa berlari di 2.8GHz menghasilkan panas yang lebih cepat terkumpul dibandingkan Helio G99 yang berjalan lebih efisien.
Akibat dari panas yang berlebih ini adalah fenomena yang disebut thermal throttling. Sistem keamanan pada prosesor akan secara otomatis menurunkan kecepatan kerja (clock speed) untuk mencegah kerusakan komponen akibat panas ekstrem.
Dalam pengujian stres jangka panjang selama 20 menit, saya mencatat bahwa Snapdragon 685 sering kali harus menurunkan kecepatannya secara drastis hingga ke angka 1.4GHz. Ia kehilangan hampir separuh dari potensi performanya. Sementara itu, berkat manajemen daya yang lebih baik dan arsitektur yang efisien, Helio G99 mampu mempertahankan kecepatan di atas 1.9GHz dalam durasi yang sama. Ini berarti performa Helio G99 jauh lebih stabil untuk sesi penggunaan panjang.
Dampak pada konsumsi baterai juga sangat signifikan. Dalam pengujian gaming berat seperti Genshin Impact selama 30 menit, perangkat dengan Snapdragon 685 dapat mengonsumsi daya baterai hingga 22%, sedangkan perangkat dengan Helio G99 hanya mengonsumsi sekitar 14%.
Selisih efisiensi ini sangat besar dan akan sangat terasa dalam penggunaan sehari-hari. Pengguna Helio G99 akan menikmati waktu layar menyala (Screen-on-Time) yang lebih lama dan suhu perangkat yang lebih nyaman di tangan. Sangat penting bagi Anda untuk memahami tips menjaga suhu smartphone agar perangkat tetap awet, namun memilih chipset yang efisien sejak awal adalah langkah preventif terbaik.
Batasan Multimedia dan Kualitas ISP Bagi Konten Kreator
Di era media sosial yang didominasi oleh konten video pendek dan visual berkualitas tinggi, kemampuan ISP atau Image Signal Processor pada chipset menjadi sangat krusial. Sayangnya, sektor ini sering kali menjadi titik lemah Snapdragon 685 yang jarang disadari oleh pembeli sebelum barang sampai di tangan.
Chipset ini memiliki batasan teknis pada kemampuan perekaman video yang mentok di resolusi 1080p pada 30 atau 60 FPS. Anda tak bisa merekam video dengan resolusi 4K, atau bahkan 2K, menggunakan perangkat bertenaga Snapdragon 685, terlepas dari seberapa canggih sensor kamera yang dipasang oleh produsen HP.
Sebaliknya, Helio G99 menawarkan fleksibilitas yang lebih baik bagi para konten kreator pemula seperti saya. ISP pada Helio G99 mendukung perekaman video hingga resolusi 2K pada 30fps atau Full HD 1080p pada 60fps dengan stabilitas yang lebih baik.
Dukungan resolusi yang lebih tinggi ini memberikan detail ekstra yang sangat berguna saat proses editing, memungkinkan saya melakukan cropping atau zooming tanpa kehilangan ketajaman gambar secara signifikan. Bagi Anda yang aktif di platform seperti TikTok atau Instagram Reels, kemampuan merekam 60fps yang lancar adalah nilai tambah yang besar.
Selain video, kecepatan pemrosesan foto juga dipengaruhi oleh ISP. Saat ini banyak beredar ponsel kamera resolusi tinggi dengan sensor 64MP atau 108MP di pasar kelas menengah. Helio G99 memiliki bandwidth pemrosesan yang lebih lebar untuk menangani data gambar sebesar itu dengan lebih cepat.
Pada Snapdragon 685, saya sering merasakan ada jeda (shutter lag) sesaat setelah mengambil foto resolusi tinggi, karena prosesor membutuhkan waktu lebih lama untuk mengolah data gambar tersebut. Pengalaman memotret snappy atau gesit akan lebih mudah didapatkan pada perangkat berbasis Helio G99.
Membaca Skor Benchmark Sintetis Sebagai Validasi Data
Meskipun pengalaman penggunaan nyata adalah raja, skor benchmark sintetis tetap menjadi alat ukur yang valid untuk membandingkan potensi mentah dari sebuah silikon. Angka-angka ini memberikan gambaran objektif tentang kemampuan komputasi tanpa bias optimasi perangkat lunak dari satu game tertentu.
Dalam pengujian populer menggunakan Antutu Benchmark (versi 9 dan 10), Helio G99 secara konsisten mencatatkan skor total di kisaran 370.000 hingga 430.000 poin, tergantung pada konfigurasi RAM dan pendinginan perangkat. Bandingkan dengan Snapdragon 685 yang umumnya hanya mampu meraih skor di rentang 280.000 hingga 315.000 poin.
Terdapat kesenjangan performa atau performance gap sekitar 20% hingga 30% antara kedua chipset ini. Angka ini bukanlah selisih yang kecil dalam dunia komputasi mobile. Selisih 30% bisa berarti perbedaan antara aplikasi yang terbuka instan dengan aplikasi yang membutuhkan waktu loading beberapa detik.
Ini memvalidasi analisis arsitektur saya sebelumnya bahwa core Cortex-A76 memang jauh lebih superior dibandingkan Cortex-A73. Data dari Geekbench 5 dan 6 juga mengonfirmasi dominasi Helio G99. Skor Single-Core yang lebih tinggi menunjukkan responsivitas yang lebih baik untuk tugas-tugas ringan seperti browsing web atau navigasi antarmuka.
Sementara skor Multi-Core yang lebih tinggi menjamin kemampuan multitasking yang lebih lancar saat pengguna berpindah-pindah antar banyak aplikasi. Data ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa dalam kategori performa murni, Helio G99 berada di kelas yang berbeda di atas Snapdragon 685. Bagi Anda yang mempertimbangkan opsi 5G, mungkin bisa melihat perbandingan chipset 5G lainnya seperti Dimensity 6080 untuk melihat posisi chipset 4G ini dalam peta persaingan yang lebih luas.
Perspektif Jangka Panjang dan Relevansi di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, kita harus realistis melihat posisi kedua chipset ini. Keduanya adalah chipset 4G di dunia yang semakin bergerak menuju 5G. Namun, relevansi mereka, terutama di pasar Indonesia, masih sangat kuat. Infrastruktur 5G yang belum merata sepenuhnya hingga ke pelosok daerah membuat ponsel 4G dengan performa kencang masih menjadi pilihan rasional bagi banyak orang.
Dalam konteks ini, Helio G99 (dan varian barunya seperti G100 yang spesifikasinya sangat mirip) menawarkan umur pemakaian yang lebih panjang. Kekuatan pemrosesan yang lebih besar pada Helio G99 memberikan jaminan bahwa ponsel tersebut akan tetap terasa lancar digunakan untuk update aplikasi dan sistem operasi di masa depan yang semakin berat.
Aplikasi media sosial, e-commerce, dan perbankan terus bertambah ukurannya dan membutuhkan daya komputasi lebih besar setiap tahunnya. Snapdragon 685, dengan arsitektur yang sudah tertinggal, berisiko lebih cepat terasa lambat (obsolete) dalam kurun waktu satu atau dua tahun ke depan.
Selain itu, dukungan komunitas pengembang game juga cenderung lebih mengoptimalkan game mereka untuk arsitektur yang lebih modern dan umum digunakan. Dengan dominasi Helio G-series di pasar menengah global, optimasi game untuk chipset ini sering kali lebih prioritas dibandingkan arsitektur lawas yang dipakai Snapdragon 685.
Jadi, jika Anda berencana menggunakan HP tersebut untuk jangka waktu 2-3 tahun ke depan, investasi pada performa Helio G99 adalah langkah yang lebih aman untuk menjaga kenyamanan penggunaan jangka panjang. Pastikan juga Anda selalu menerapkan setting grafik optimal pada setiap game yang dimainkan untuk memperpanjang usia komponen ponsel Anda.
Baca Juga : HP Lemot Parah? Tutorial Cara Hapus Bloatware di HP Android Tanpa PC (Update 2026)
Ringkasan Snapdragon 685 vs Helio G99
- Arsitektur CPU: Helio G99 unggul telak dengan teknologi core Cortex-A76 yang modern, sementara Snapdragon 685 masih terjebak dengan arsitektur lawas Cortex-A73.
- Performa Grafis: GPU Mali-G57 MC2 pada Helio G99 jauh lebih bertenaga untuk gaming dibandingkan Adreno 610 pada Snapdragon 685 yang merupakan daur ulang teknologi lama.
- Efisiensi & Suhu: Meskipun sama-sama 6nm, Snapdragon 685 lebih cepat panas dan boros baterai karena dipaksa berjalan di clock speed tinggi (2.8GHz), menyebabkan performa sering turun mendadak (throttling).
- Multimedia: Konten kreator lebih diuntungkan dengan Helio G99 yang mendukung perekaman video hingga resolusi 2K atau 1080p 60fps, fitur yang absen di Snapdragon 685.
- Kesimpulan Akhir: Untuk pemakaian tahun 2026, Helio G99 adalah pilihan mutlak bagi pengguna yang mementingkan performa dan efisiensi. Snapdragon 685 hanya saya sarankan untuk penggunaan yang sangat ringan.
Jangan lupa baca juga artikel menarik lainnya dari Mahesa untuk mendapatkan wawasan teknologi yang lebih tajam dan mendalam. Follow dan like sosial media Anima Trenz untuk update teknologi terbaru, review gadget jujur, dan tips trik smartphone harianmu!
Disclaimer: Analisis performa dan rekomendasi dalam artikel ini didasarkan pada pengujian teknis independen serta spesifikasi kertas yang tersedia hingga tahun 2026. Skor benchmark dan pengalaman penggunaan nyata dapat bervariasi tergantung pada optimalisasi perangkat lunak, sistem pendingin, dan konfigurasi RAM dari masing-masing merek smartphone. Artikel ini bertujuan sebagai referensi edukasi dan bukan merupakan jaminan performa mutlak. Kami menyarankan pembaca untuk selalu memeriksa ulasan spesifik per model HP sebelum membeli.